Tuesday, September 25, 2012

Painfully Possessive

Teman saya bilang kalau pacarmu tidak posesif kepadamu, berarti dia tidak sayang sama kamu…. Well, posesif dalam level tertentu bisa jadi lucu dan seksi, tapi kalau sudah sangat kelewatan, kita harus negosiasi.


Pacar posesif, karena dia kurang kece atau kita-nya yang kelewat kece? #eaaa

Mungkin tiap tiga bulan sekali Pras (30) bisa bertemu dengan teman-teman akrabnya untuk sekedar ngopi dan ngobrol santai sepulang kerja. Waktunya cukup singkat, paling 2 jam saja sepulang kerja. Tapi selama 2 jam itu pula blackberrynya tidak bisa lepas dari tangannya. Pacarnya minta dibbm / ditelepon per 10 menit dan dengan topik yang tidak penting, yang semua bisa dijawab dengan Penting banget nggak? Bisa nanti aja khan? Dan kelihatannya Pras tersiksa sekali. Tapi dia tidak punya pilihan, dia bisa saja cuek terhadap kelakuan pacar yang menerornya sekarang tapi akibatnya waktu pulang nanti, bisa jadi di mobil akan diserbu oleh amukan dari pacarnya; dan itu akan jadi lebih males lagi, katanya.
Sedangkan Cindy (28) suka sekali hang-out dengan teman-temannya. Entah sekedar ngopi, shopping atau clubbing. Sang pacar pernah ultimatum Kamu tidak boleh pergi nanti malam, dengan alasan yang tidak jelas (dianggapnya pergi ke club adalah sebuah dosa besarrrr….hehehe). Dan bisa ditebak, malam itu Cindy malah pergi dan memutuskan untuk tidak mendengarkan ancaman pacar. Besoknya bisa ditebak. Mereka berantem besar.
Yang lebih parah lagi, kisah si Reza (38), pacarnya pernah mengarang cerita kalau dia sedang dalam masalah besar (sehingga menghabiskan energi dan pikiran Reza untuk sesuatu yang tidak jelas) dan juga pernah mengarang cerita lantas menuduh kalau Reza berselingkuh (padahal Reza tidak pernah selingkuh). Pacarnya melakukan itu untuk mendapatkan seluruh perhatian dan waktu Reza. Beberapa waktu lalu, teman-teman wanita Reza pun ikut dicemburui oleh si pacar. Saya tidak tahu kisah selanjutnya, apa sekarang Reza ini sedang dirantai dalam kandang atau bagaimana…. (hehehe….lebay-red).

Tuntutan vs. Tuntutan
Idealnya, kalau pasangan menuntut apa, kita juga harus menuntut yang setimpal, ujar (sebut saja), Mira (29 th) yang mengaku punya pacar sangat posesif. Sang pacar menuntutnya tidak boleh keluar malam diatas jam 12 pada saat weekend. Sedangkan sang pacar tidak bisa menemaninya setiap weekend karena ada kesibukan, pula sang pacar tidak kunjung menikahinya. Lha dia juga nggak bisa memberikan gue status (maksudnya dinikahi-red), kenapa gue harus tunduk pada aturan ketat yang dia berikan? Secara gue sudah dewasa dan paham mana yang baik dan buruk dari hidup gue…, ujarnya agak berapi-api.
Menurut sahabat pria saya, posesif sebenarnya adalah suatu bentuk ketidak-adilan. Dimana satu pihak bisa menuntut sesuatu kepada pihak lain, tapi pihak lain tidak berhak menuntut balik. Ini berlaku dalam keadaan apple-to-apple ya. Misalnya, Budi tidak memperbolehkan Siti pergi clubbing malam minggu. Sebagai balasannya, Siti minta Budi tidak pergi dengan teman-temannya bersepeda di hari Minggu. Budi tidak mau ngalah, karena alasannya pergi bersepeda adalah kesenangannya. Nah bagaimana dengan Siti, bukankah clubbing adalah juga kesenangannya? Dua-duanya adalah aktifitas yang membuat masing-masing senang dan masing-masing berupaya membunuh kesenangan masing-masing.
Pada saat ditanya alasan mengapa seseorang bertindak posesif, pastilah dia akan mencari pembenaran, sampai dirinya menang. Kalau alasan posesif itu jelas, tidak apa-apa, tapi kalau lebih kearah egois, dimana salah satu menuntut lebih dari pasangan tentunya nggak adil ya.

Selidiki penyebabnya
Kebanyakan temen-temen gue yang laki-laki memang dulunya rada bangsat sih, makanya sekarang suka pada posesif ke ceweknya, ujar salah satu sahabat pria saya, tentang teman prianya yang posesifnya kelewatan. Sang pacar diwajibkan untuk : berpakaian sesuai kehendaknya, wajib lapor tiap 10 menit sekali, menuntut wajib ditemani kemanapun pacarnya pergi, mengganggu acara bersosialiasi sang pacar, terlalu banyak telepon, parno berlebihan kalau pacar bakalan selingkuh, suka merendahkan pacar (mulai dari level intelektualitas dan usia, misalnya), serta tingkah laku suka membesar-besarkan hal yang kecil. Keinginan membuat si pacar takluk pada kehendaknya itulah yang akhirnya membuat ia kehilangan pacarnya karena sang pacar lantas memberontak….. (Ya sih, saya dengernya aja sudah pingin garuk-garuk kepala padahal nggak ketombean… *keluh*)
Ternyata sebab si Anita posesif abis sama gue adalah karena dari dulu dia selalu dikhianati pacar-pacarnya, ujar Donny yang tidak paham kenapa di usia 35 th Anita masih posesif dan mengekang Donny berlebihan. Ini tidak adil juga karena mustinya Anita paham kalau tidak semua laki-laki sama sifatnya dan mustinya lebih memberikan kepercayaan pada Donny. Bahwasanya kalau Donny ternyata memang rada (maaf) bajingan juga, ya mungkin Anita memang sedang sial saja, hehehe…..

Kompromi
Sebetulnya tidak ada yang tidak bisa dinegosiasikan bahkan dalam kehidupan dating sekalipun (lain kalau sudah menikah yaaa….). Kalau dalam pacaran, semua hendaknya bisa dikomunikasikan sampai ketemu dengan titik nyaman yang disepakati kedua belah pihak. Jangan menuntut pasangan yang aneh-aneh juga kalau kamu tidak mau balik dituntut yang aneh sih….hehehe.
Secara pribadi, saya lebih suka hubungan yang sangat based on trust, dalam artian kita saling menaruh kepercayaan pada pasangan dan kalau sampai dia macam-macam, tanpa ba-bi-bu selesai sudah tanpa perlu memberi penjelasan. Bukankah kita sudah pada tahap kedewasaan yang bisa membedakan mana yang baik dan benar, mana yang salah mana yang nggak dan mana yang rese dan tidak rese?
Pasti ada jiwa pemberontak dalam tiap pribadi yang merasa sedikit tertekan karena pasangannya kelewat posesif. Ibarat menggenggam pasir di tangan, apabila kita terlalu erat menggenggamnya, maka pasir tersebut akan lolos dari sela-sela jari kita tapi sebaliknya, apabila tidak digenggam terlalu erat, pasir tersebut tetap akan utuh di tangan kita…







Kenapa disini saya bilang “Painful” adalah karena alangkah menyakitkan apabila kita harus kehilangan seseorang yang sangat kita sayangi, justru karena sikap posesif yang berlebihan tadi. Rasa sakit tadi akan dirasakan bukan hanya oleh si posesif yang aktif tadi, tapi juga pada yang menjadi objeknya…. ;) #jleb #jleb #jleb

Posesif yang berlebihan akan membuat kamu merasa sakit sendiri (dalam artian : ya, kamu menyiksa dirimu sendiri). Posesif kalau levelnya tepat akan menjadi seksi, playful, lucu dan bikin ketawa. Kalau sudah kelebihan….well… yah, kan sudah sering dibilangin kalau segala sesuatu yang berlebihan itu kan tidak baik.

source : klik here