Tuesday, September 25, 2012

I love you, but I will have to leave you….


Orang yang mencintaimu tidak akan memukulmu. Sekali kau biarkan ia memukulmu, maka ia akan mengulanginya. Ketika seorang pria memukul perempuan yang dicintainya, maka kata cinta dan maaf sudah menjadi sebuah high quality nonsense.

Will he change? How can I stop him hurting me?

Dia kerap memukul saya dan kemudian meminta maaf. Bilang I love you and I am sorry, tapi lantas diulangi lagi. Apa saya harus meninggalkannya?, sepenggal e-mail yang saya terima dari, sebut saja Karina yang dia kirimkan setelah membaca posting blog saya yang berjudul Penantian. Karina ingin tahu sampai kapan ia disarankan (oleh saya) untuk menunggu Randy (tunangannya) karena tunangannya itu kerap main fisik ketika marah kepadanya.

Terus terang saya bingung membacanya, dalam hati saya ingin menyarankan Karina untuk meninggalkan Randy. Bagi saya tidak pernah ada pembenaran dalam hal apapun bagi seorang laki-laki untuk memukul perempuan. Tapi saya sadar bahwa ketika saya memberi saran ketika itu juga saya sudah ikut campur dalam kehidupan seseorang. Maka itu dengan hati-hati saya menjawab;

Dear Karina, saya tidak tahu kapan kamu harus menunggu dia untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Sepengetahuan saya, orang yang tega memukul perempuan sekali kerap akan mengulanginya lagi. Dan menurut saya orang yang mencintaimu tidak akan memukulmu apalagi berkali-kali. Kalau sudah demikian, mohon maaf, tiap kata I love you dan I am sorry yang diucapkannya, buat saya terdengar seperti high quality nonsense. Dan kemudian saya menghapus contact dan email address saya dari blog. Saya tidak mau lagi berkata hal yang menyakitkan seperti ini pada pembaca blog saya.
"Far more pain than the visible marks......"
"Far more pain than the visible marks……"

Dont you love me any more? Why did you hit me?

Kisah Karina diatas terjadi sebelum dia menikah. Mereka masih dalam tahap bertunangan (dan tunangannya sudah menunjukkan warna asli nya). Apa daya kalau sudah menikah? Beruntunglah karena Tuhan sudah memperingati Karina dari awal. Sekarang tergantung padanya, apa dia bisa menerima tunangannya apa adanya.

Lain halnya dengan Nadia, usianya 28 tahun, cantik, pintar dan memiliki karir yang cemerlang di sebuah perusahaan ternama. Ia menikahi Zano (32 tahun) setahun lalu dan sekarang mereka sudah berpisah. Berpisah? Ya karena Nadia tidak membiarkan Zano melakukan tindak kekerasan padanya. Sekali permintaan maaf diterima, kedua kali, bahkan yang ketiga kalinya. Ketika sudah berada di titik terakhir, Nadia pun kabur dari rumah dan memutuskan untuk lebih baik dia hidup sendiri daripada harus hidup bersama dengan orang yang tidak mencintainya. Kini ia menunggu kepastian perceraian untuk memulai hidup baru.

Menilik kasus Nadia - pemukulan yang terjadi kepadanya bukanlah salah Nadia. Selama ini ia lelah harus membiayai kebutuhan keluarga Zano, dan ketika ia memutuskan untuk bicara dengan Zano, tak disangka, itulah awal dimana ia menerima pukulan di wajah oleh suaminya sendiri. Shock dan terluka perasaan, ia memaafkan suaminya. Namun hari demi hari, tidak ada perubahan dari diri sang suami. Tiap pukulan yang dia dapatkan sepaket dengan kata maaf lagi-lagi high quality nonsense.

Bahkan ia pernah menggendong saya di lantai dua, dan mengancam kalau saya ngomong lagi, dia akan menjatuhkan saya dari lantai dua rumah kami. Biar saya mati, katanya. Dan masih banyak kejadian lain yang tidak bisa saya ceritakan disini.


Men should not hit women and women shouldnt let them.

Kalau kamu memang mencintai aku, kenapa kamu harus memukul aku? Kenapa tidak memukul kaca, lemari atau benda lain saja? Kenapa harus wajahku? Ketika dulu aku memilihmu untuk menjadi pasanganku, aku tidak tahu kalau aku akan berpasangan dengan egomu dan bukan kamu… mungkin adalah jeritan hati tiap perempuan yang pernah mengalami kekerasan fisik dari pasangannya. Kenapa kaum laki-laki tidak memukuli mobil mereka saja? Toh mobil diasuransi, wajah pasangan kan tidak?

Tidakkah laki-laki itu ingat kepada ibu yang melahirkannya dulu? Seorang perempuan yang berjuang agar ia bisa punya nyawa. Siapapun baik atau buruk perlakuan ibunya kepadanya pasti amat mencintai ibu. Maka ketika laki-laki itu memukul perempuan, apa dia tidak ingat bahwa perempuan ini juga nantinya akan menjadi ibu bagi seseorang? Kalaupun laki-laki itu adalah ayah dari anak perempuan, apakah ia rela kalau anak perempuannya dipukul orang? Gentleman, you came from a woman. So you have no right to disrespect one.

Ketika seorang laki-laki memukul perempuan, bukan fisik yang terasa amat sakit bagi si perempuan itu, tetapi hatinya. Fisik pasti terasa sakit, luka, karena perempuan lebih lemah daripada laki-laki; tapi sakit yang dirasakan di hati, tidak akan bisa ia lupakan secara singkat, bahkan mungkin selamanya kalau perempuan itu tidak bisa berdamai dengan dirinya sendiri.

Laki-laki utama yang harusnya mencintaimu setelah engkau menikah adalah suamimu. Yang kedua adalah bapakmu. Dulu sebelum menikah, Bapakmu lah laki-laki yang utama mencintai kamu, sekarang adalah suamimu yang harusnya melindungi dan menjagamu, begitu ayah Nadia pernah berpesan padanya, ketika Nadia belum menikah. Dan ketika Nadia kembali ke rumah orangtuanya, ia langsung bersujud di depan kaki bapaknya, mencium kakinya dan berkata; Bapak, maafkan aku, selama aku jadi anakmu, pasti aku banyak melakukan kesalahan dan terimakasih karena apapun kesalahan aku, bapak tidak pernah memukul aku….

Seorang laki-laki sejati tidak akan memukul perempuan. Katakan saya feminis kalau anda mau, tapi tidak ada satupun alasan yang melegitimasi bahwa seorang laki-laki boleh memukul perempuan (emm….mungkin kalau dalam hal self defense ya itu soal lain ya, hehe….). Kalaupun laki-laki itu sudah tidak lagi mencintainya (atau perempuan itu selingkuh sekalipun) dan laki-laki ini sudah sangat marah padanya, tinggalkan saja perempuan itu. Jangan sekali-kali dipukul. Tuhan toh tidak tidur.

I love you, but I will have to leave you….

Kenapa seorang wanita kadang tidak tega meninggalkan seseorang yang melakukan penyiksaan fisik kepadanya? Menurut saya jawabannya bukan cinta. Mereka tinggal karena ketakutan untuk pergi lebih besar daripada ketakutan untuk tinggal. Mereka akan meninggalkannya - kalau ketakutan untuk tetap tinggal lebih besar daripada ketakutan untuk pergi. Saya pernah membaca ini entah dimana, saya rasa ada benarnya juga.

Masihkah Nadia mencintai suaminya? Kalau suaminya datang kembali apakah ia akan menerimanya kembali? Kadang di malam hari, Nadia masih menangisi suaminya, teringat betapa dulu ia sangat dicintai oleh suaminya dan berharap ini semua cuma mimpi buruk. Namun ia sadar, cinta dan kekerasan fisik tidak akan pernah bisa sejalan. Maka itu, seberapa besar pun cinta Nadia pada suaminya, ia memilih untuk meninggalkannya. I love you, but I will have to leave you….

Its difficult for women to walk away from an abusive relationship. Often a woman doesnt want the relationship to end, she just wants the violence to stop.
Untuk Nadia dan semua perempuan yang pernah terluka

Sebagai seorang perempuan, saya akan mendengar semua keluh kesah sahabat perempuan saya yang pernah disakiti oleh laki-laki dengan kekerasan fisik. Jangan sampai kita berkata Kamu berbuat apa? karena penggunaan kekerasan tidak pernah bisa menjadi solusi. Jangan juga berkata Melihat orangnya, kok rasanya tidak mungkin ya dia akan memukulmu? karena seorang laki-laki tipe ini biasanya mengesankan dan charming dalam kehidupan sosial, namun bisa saja melakukan kekerasan fisik di saat yang private. Walau bukan seorang psikolog, namun menjadi teman yang baik adalah yang paling dibutuhkan oleh mereka yang mengalami kondisi seperti ini.

Hari ini tepat setahun Nadia menikah dengan suaminya. Dan ia tidak lagi menangisi mengapa segalanya ternyata berakhir seperti ini. Designer busana pengantinnya berkata Darling, anggap saja tahun lalu kamu sedang melakukan peragaan busana baju pengantin di hadapan 1000 orang…. dan bahwa suatu hari nanti, kamu akan melakukannya lagi dengan seseorang yang dengan tulus mencintai kamu.

Berdamai dengan diri sendiri menjadi satu-satunya yang bisa dilakukan Nadia saat ini, belajar menerima dengan ikhlas dan tidak lagi menyalahkan orang lain. Segala sesuatunya akan menjadi lebih indah suatu saat nanti…. dan saya percaya itu.

A gentleman is one who never hurts anyones feelings unintentionally
A gentleman respects every women in his life.
If you cant respect your own mother,
forget about respecting your girlfriend / wife.
A gentleman doesn’t need to hit a woman to feel like a man
-Unknown

Source : klik here