Wednesday, August 8, 2012

Are You Ready?

Perempuan, di usia krisis itu rentan sekali dengan yang namanya "GALAU" belum lagi kalo hormonal bulanan  lagi mampir, wah skenario-nya bisa jauh lebih heboh dari sinetron di tivi. Drama banget. Perempuan di usia 20an biasanya akan tambah tertekan dengan masalah-masalah simple sampai masalah yang besar, seperti yang saya bilang perempuan itu drama. Menikah adalah hal yang di idamkan oleh semua perempuan. Dapet pasangan sempurna, seagama, tajir, seru dll. Bermimpi dan selalu membayangkan menjadi 'Ratu Semalam', duduk di pelaminan, senyum sana-sini, sumringah, foto-foto, di mention sama temen-temen dengan ucapan-ucapan dan do'a-do'a yang baik. Siapa yang gak mau? Belum lagi saat temen-temen satu genk sudah mendapatkan 'jodoh' dan melangkah ke pelaminan, preasure? pasti.

Menurut saya, menikah bukan hanya saat dua keluarga berpesta dengan meriahnya, tapi ketika pagi hari bangun tidur, that's when we start our life. One day, saat lagi siaran dan browsing-browsing web portal, tiba-tiba dapet link blog yang bagus. Siapa tau setelah baca isi blog yang saya copy paste ini kamu bisa berpikir lagi bahwa menikah itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. 


Jam Biologis Yang Berdetak Kencang
Kebanyakan wanita (disini saya bilang ‘kebanyakan’ yaaa… saya yakin yang pada baca artikel ini sih nggak….hehehe) tampak makin desperate untuk mencari jodoh apabila umurnya sudah diatas kepala 4. Beberapa malah sudah desperate ketika usianya baru 36 tahun (padahal mustinya ada rehat waktu 4 tahun tuh sebelum desperate beneran!). Kebanyakan karena ada anggapan kalau pria bisa saja menikahi gadis usia 29 ketika umur mereka 60 tahun; tapi wanita umur 36 atau 40an agak susah mencari jodoh laki-laki usia sepantaran atau lebih. Kebanyakan laki-laki akan memilih wanita muda yang fisiknya masih kenceng. Begitu anggapannya. Yang paling vital adalah karena nanti di usia 36 keatas, sulit mau hamil dan punya anak.
Well, I tell you what girls, pria tidak akan menyukai wanita yang tampak desperate, needy, terlalu galau dan ketergantungan terhadap mereka (apalagi yang desperate-nya lantas dibahas di twitter ya, hehehe…..) Pria juga tidak akan mengejar wanita yang arogan dan terlalu independen. Yang paling benar adalah menjadi diri sendiri saja - karena saat kamu bisa menjadi diri sendiri di depan pasangan itulah hubungan yang natural dan long lasting akan tercapai. Soal punya anak, hey ada banyak anak yatim piatu yang membutuhkan orangtua lho. Daripada memenuhi bumi dengan 10 anak kenapa tidak mengadopsi atau mengasuh anak yang juga membutuhkan orangtua saja? 

Menikah Saja Dulu, Rejeki Bakal Datang Dengan Sendirinya.
Adalah pendapat yang salah dan agak ngawur. Memang rejeki itu ada di tangan Tuhan, tapi manusia juga harus sadar diri dong mengatur keuangannya. Ada baiknya sebelum menikah, dibahas dulu pos-pos pengeluaran dengan pasangan nantinya. Ini bukan materialistis ya, tapi realistis. Menangis di dalam BMW tentu lebih nyaman daripada menangis di dalam becak. Sebagai laki-laki sebelum menikah harusnya memikirkan baik-baik, sudah bisa menghidupi istri dan anak tidak kelak? Kalau selama ini menghidupi diri sendiri saja susah - …… (hmmm saya tidak akan melanjutkan kalimat tadi).

Dihidupi oleh orangtua setelah menikah juga menurut saya agak sedikit menyedihkan, bukannya kita yang masih muda yang harusnya menghidupi orangtua? Tapi kasus yang paling aneh adalah satu pasangan yang saya tahu, setelah menikah, semua kebutuhan keluarga muda mereka - dibiayai oleh adik bungsunya. Kalau sudah begini lebih baik mereka itu ke laut saja dan main sana sama ikan lumba-lumba…..hihihi…
Jangan anggap remeh masalah finansial karena kalau kamu dan pasanganmu tiap hari nantinya memikirkan bagaimana caranya membeli susu anak setiap harinya, lama-lama sudah nggak ada yang romantis lagi khan? Dan itu yang dialami teman saya, sebut saja namanya Satrio, yang kini hidupnya mati-matian ngutang sana sini dan tipu sana sini demi membeli susu buat si buah hati. Dia tuh yang mencetuskan prinsip “rejeki bakal datang dengan sendirinya” tadi. Romantis tapi agak sedikit tragis. 

Sepertinya Diluar Sana Ada Pilihan Lain yang Lebih Baik
Ujar Stella, yang ketika mau menikah, masih menjalin hubungan dengan Andika - suami orang;  (yang katanya mencintainya dengan tulus dan yakin bahwa Stella adalah soulmate-nya dan mereka akan bertemu kembali di afterlife….atau semacamnya gitulah). Menurut saya, kalau Andika benar mencintai Stella- Ia pasti akan meninggalkan istrinya demi Stella (bah kayak gak ada laki-laki lain saja di bumi?!) dan berani bilang sama Bram (calon suami Stella) bahwa Ia adalah pria yang lebih pantas untuk menikahinya. Kalau bisa memiliki sekarang ngapain nunggu sampai mati dan ketemu lagi di afterlife? Ntar kalau di afterlife gak ketemu lagi gimana… masak di afterlifenya juga galau? hehehe…. Sebenarnya simple saja, kalau benar cinta ya harus ada action, jangan cuma ngomong doang. Jadi Stella harusnya tahu siapa yang lebih ada action, dengan demikian tidak galau-galau lagi.

Pernikahan Jadi Tujuan Akhir?
Wanita jaman dulu, yang tahu kalau suaminya ada main dengan wanita lain, tapi bisa diam saja di rumah dan mengurus anak - dan tetap berusaha untuk tampak bahagia, adalah , menurut saya, wanita yang tangguh. Ironisnya saya melihat pernikahan mereka adalah semacam status sosial, bahwa ia sudah bisa tenang sekarang, sudah aman, sudah secure, sudah dinikahi, ada anak, dinafkahi - nasib tetap lebih baik daripada yang belum menikah. Saya nggak bilang sikap nerimo ini salah, namun sedikit sedih saja melihatnya.

Sebut saja Cindy, wanita karir usia 38 tahun yang sudah berpacaran dengan Reza, 45 tahun (duda satu anak) selama 5 tahun dan sedang galau karena tidak kunjung dinikahi. Mereka sudah tinggal bersama selama 4 tahun lamanya. Saya rasa Reza sudah mengetahui seluk beluk seperti apa rasanya menikah dengan Cindy, toh mereka sudah seperti keluarga kecil. Tapi mengapa Cindy tetap memaksa harus dinikahi oleh Reza? Ia berkata simply karena membutuhkan : status (dan takut kalau terjadi ‘apa-apa’ dengan Reza, ia tidak dapat warisan), dan rasa aman karena “hey terserah deh Reza mau ngapain saja di luar, toh baliknya ke gue juga - his wife," Hmm kalau pernikahan sudah menjadi tujuan akhir seperti ini rasanya agak sedih. Katakanlah saya hopeless romantic - tapi buat saya lebih baik menjaga keromantisan dalam hubungan apapun, mau pacaran atau menikah, daripada kemudian menikah dan segalanya terasa hambar - simply karena tujuan akhir tadi sudah dicapai. Memelihara cinta itu yang rasanya menjadi inti dari kebahagiaan pasangan, bukan semata institusi pernikahan saja.

Dinikahi dan dicintai itu adalah karunia, berbahagialah kalian yang mendapatkan kesempatan itu. Namun bagi yang dicintai tapi belum dinikahi, jangan sedih…. at least kalian masih dicintai. Yang paling kasian memang yang tidak dicintai, tidak mencintai dan masih saja arogan, yang kayak begini baiknya ke laut saja dan bermain dengan ikan lumba-lumba.

Oh, She NeedsTo Get Laid….
Kata teman saya tentang atasan wanita di kantornya yang berusia hampir 40 tahun dan jomblo sejati. Belum menikah dan secara fisik (maaf) jauh dari tipe wanita idaman. Atasannya ini sangat tidak fashionable, benci make up (dan benci mereka yang memakai make up dan menjadi fashionable) dan yang terpenting, hatinya amat sempit dan tidak bisa bersosialiasi dengan baik. Selalu berpendapat negatif dan gemar mengecilkan orang lain. Hampir tidak ada yang menyukai atasan ini, kecuali cleaning service dan office girl (karena bisa diberi tip banyak) , lain karyawan tidak suka. Dan semua orang pasti bilang”Ya maklum ajalah, dia kan belum kawin….”.

Well pendapat saya sih tidak semua orang yang belum menikah kelakuannya menyebalkan. Itu hanya menjadi alasan saja supaya kebobrokan attitude mereka dimaklumi. Suster dan biarawati di gereja juga tidak menikah, kok mereka bisa berkepribadian sabar, baik dan menyenangkan?
Diatas Awan Masih Ada Awan
Sebut saja Cynthia… cantik, sukses dalam karir, dan hendak menikah dengan pria yang biasa-biasa saja. Bahkan gajinya jauh lebih kecil dibanding dia - pula tidak ada penghasilan tambahan, cakep juga nggak, agak pemalas pula! Ketika ditanya orang, “Lho kamu kok mau kawin sama dia?!” Cynthia cuma menjawab, “Well, diatas yang ganteng masih ada yang ganteng, diatas yang tajir masih ada yang tajir, diatas yang pinter ,masih ada yang lebih pinter, jadi gue mau nyari sampe kapan? Yang paling penting adalah gue bisa menerima kekurangannya (kalau menerima kelebihan sih semua juga bisa ya), tapi bagi gue, cukuplah pencarian gue karena gue bisa menerim semua kekurangan dia.” Jawaban ini klise banget dan layak diberi standing applause untuk jaman sekarang. Dan fakta bahwa Cynthia masih happily married until now membuktikan bahwa ia benar memegang teguh pada apa yang diucapkannya waktu itu.

Dia Berkata Yang Serba Buruk Tentang Mantannya
If I were you, I would never….never ever ever, never ever ever ever….ever! go on a date with someone like this! Kalau seorang pria gemar menjelek-jelekkan mantan pacar atau istri di depanmu, di social media (kecuali di lingkungan teman dekat atau orang kepercayaan dia ya, mungkin mau curhat, kan kasian juga kalau nggak boleh curhat, ya nggak…), berarti kalau suatu saat (amit-amit) hubunganmu dengan dia memburuk….nahhhh….;)
Masa lalu ya masa lalu, tidak perlu dibahas-bahas terus di masa kini. Ambil yang penting-penting saja lalu buang kenangan bersama mantan pada tempatnya (dan tempatnya sudah pasti bukan di twitter ya).
I Want to Find My Partner in Life
Pada akhirnya, semua manusia mencari si “partner in life” , seseorang yang bisa menjadi sahabat, kekasih, kakak, adik - seseorang yang bisa menerima kita apa adanya. Kalau sudah ketemu bersyukurlah, kalau belum ya carilah. Kalau sudah ketemu dan dia mengajak menikah, pikir dulu baik baik baru menikah.
Jangan jadikan pernikahan itu sebagai tujuan akhir demi rasa keamanan sosial dan psikologis. Idealnya, pernikahan harus menjadi pelengkap kenyamanan hidup - lahir dan bathin, karena keputusan untuk bahagia ada di tanganmu sendiri, bukan di tangan pernikahan.

source : Klik Here 

So, Are You Ready?? 

@febicil